Sejarah GO-Jek Bagaimana Awalnya

Sejarah GO-Jek - Beberapa saat lalu GO-Jek membuat trending di dunia maya dan banyak pula diulas di media. Layanan yang relatif baru ini merupakan salah satu solusi jitu masyarakat yang ingin pergi ke suatu tempat namun terhalang dengan kemacetan parah yang mendera Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia jika menggunkan mobil. Go-Jek merupakan jasa order ojek menggunakan aplikasi smartphone sebagai karya seorang Nadiem Makarim. Sejarah GO-Jek dimulai tahun 2010 dimana saat itu untuk pertama kali Nadiem mengenalkan start up miliknya tersebut.

Nadiem Makarim, Brian Cu dan Michaelangelo Moran tercatat sebagai pendirinya. Sebelum membangun startup ini Nadiem sendiri berkarir di McKinsey sementara Brian Cu beraktifitas di BCG dan Michaelangelo Moran menjadi Web Interactive Designer lepas. Sesudah membuka layanan GO-Jek di tahun 2010 itu Nadiem dan Brian malah aktif di Rocket Internet untuk membesarkan Zalora. Secara resmi Nadiem masuk ke Zalora di tahun 2011 sementara Brian tahun 2012. Keduanya diminta Rocket Internet mengembangkan Zalora Indonesia yang bergerak di bidang e-commerce khusus fesyen.
Sejarah GO-Jek, Cara Daftar, cara daftar gojek, biografi nadiem makarim,

Sejarah GO-Jek


Dua tahun berkiprah di Zalora Nadiem memutuskan keluar namun belum juga berfokus membesarkan startup GO-Jek-nya tersebut. Pada bulan April 2013 anak Pekalongan yang lulusan Harvard tersebut justru merapat ke Kartuku dan memegang posisi CEO. Di sana Nadiem hanya betah setahun untuk kemudian keluar dan kembali mengurusi GO-Jek. Sementara pendiri GO-Jek lainnya Brian Cu sesudah hengkang dari Zalora langsung memilih bekerja di GrabTaxi tepatnya semenjak bulan Juni 2013. Kini GrabTaxi yang juga memiliki GrabBike merupakan kompetitor utama dari Go-Jek.

Sejarah GO-Jek berlanjut di 2015 ini yang mulai lagi ramai dibicarakan banyak orang terutama penduduk Jakarta. Jika pada permulaan kemunculannya pengguna harus memesan lewat telepon, saat ini cukup membuka aplikasi yang terinstal di smartphone. Perkembangan GO-Jek tampaknya spektakuler di tahun ini. Aplikasi GO-Jek yang terpajang di toko aplikasi Play Store dan iOS telah diunduh 500 ribu kali lebih. Pengemudi ojek sebagai rekanannya pun telah mencapai 10 ribu orang yang ada di beberapa kota dimana terdapat layanan ini.

Setelah kini GO-Jek berkembang dengan pesat muncul tentangan terutama dari kalangan tukang ojek biasa. Beberapa dari pengemudi GO-Jek ada yang mendapatkan perlakuan tak menyenangkan di jalan dari tukang ojek konvensional ini. Sang CEO, Nadiem Makarim menyikapi kasus tersebut menyatakan jika GO-jek datang bukan untuk mematikan mata pencaharian tukang ojek konvensional, bahkan berusaha merangkul mereka untuk bergabung dan mendapatkan pendapatan yang lebih.

Go-Jek adalah jawaban untuk para tukang ojek ke depannya dengan 2 visi utama. Pertama yakni menanggulangi persoalan pengangguran yang kian kronis. Go-Jek menawarkan peluang kerja yang cukup terbuka lebar. Kedua membantu Pemerintah Daerah menyatukan setiap moda transportasi massal dengan Go-Jek. Go-Jek berperan sebagai feeder yang akan membawa penumpang dari rumah mereka ke halte atau terminal. Keberadaan Go-Jek pun berkontribusi ke pemerintah dengan pajak yang dibayarkannya. GO-Jek adalah yang pertama dari sektor angkutan ojek yang membayar pajak.

Berkat GO-Jek kini tak sedikit pelanggan yang mempunyai mobil pribadi lebih memilih menggunakan layanan Go-Jek dengan meninggalkan mobil pribadinya di garasi. Kemacetan yang terjadi sebetulnya muncul disebabkan lebar jalan yang sempit sementara ukuran mobil besar. Dengan GO-Jek maka lambat laun para pengguna kendaraan pribadi akan beralih menggunakan sarana transportasi motor ini sebagai andalan saat akan pergi ke suatu tempat.